Indonesia terkenal dengan budayanya yang beragam. Budaya modern maupun budaya leluhur, termasuk budaya tradisional yang masih dipelihara hingga kini. Banyak budaya tradisional yang pada akhirnya membawa nama Indonesia ke dunia internasional, seperti batik dan wayang. Namun tidak sedikit pula budaya yang pada akhirnya berujung pro kontra pada masyarakat. Beberapa diantaranya adalah budaya kejawen yang mensakralkan suatu benda, baik benda mati ataupun hidup.
Dari banyak kasus yang menyerempet pada kesyirikan ini, yang paling baru adalah kesyirikan masyarakat di makam Gusdur. Makam beliau yang berada di Tebu Ireng, Jombang selama beberapa hari diserbu oleh masyarakat yang ingin memberikan penghormatan maupun yang hanya ingin melihat dari dekat makam orang yang pernah menjadi orang nomor 1 di Indonesia tersebut. Dari berbagai macam motivasi masyarakat mengunjungi makam Gusdur, ada segelintir orang yang ingin mendapatkan berkah dari makam Gusdur. Mereka menganggap Gusdur adalah orang suci sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau dapat mendatangkan berkah dan rejeki. Mulai dari mengambil tanah makam, berebut nasi pincuk (nasi khas Jatim) dengan harapan mendapat berkah, bahkan buah pohon di dekat makam yang jatuh pun diburu oleh orang-orang ini.
Fenomena yang terjadi ini pada awalnya ditanggapi tenang oleh pihak Pondok Pesantren yang diasuh oleh Gusdur semasa hidupya. Namun ternyata hal tersebut akhirnya ditanggapi serius oleh mereka setelah melihat jumlah orang yang mengambil benda-benda untuk dikeramatkan. Tidak hanya pihak pondok pesantren, polisi yang datang pun kewalahan dalam mengatur peziarah. Karena itulah pihak pondok mendirikan pagar di sekeliling makam Gusdur untuk menghindari pengambilan tanah makam oleh masyarakat.
Kita memang tidak dapat menyalahkan siapapun dalam kejadian ini. Karena pada faktanya memang masih banyak masyarakat Indonesia yang berpegang teguh pada ajaran agama tradisional. Walaupun begitu, tidak sedikit juga yang melenceng dan akhirnya termasuk pada kegiatan penyekutuan Tuhan. Hal ini sangat disesalkan oleh MUI. Minimnya pengetahuan dan kesadaran beragama dapat menjerumuskan keimanan segelintir masyarakat tersebut. Patut disayangkan, di masa transisi dari tradisional ke modern seperti sekarang masih terdapat praktek-praktek ketradisionalan yang tidak llogis dan menyekutukan Tuhan.
Perlu proses dan waktu secara bertahap bagi kita untuk menghilangkan kebiasaan mensakralkan sesuatu. Suatu saat dimana kita memiliki pandangan yang lebih modern dan logis. Tentu saja tidak hanya bergantung pada waktu, kesadaran kita sebagai manusia yang beriman juga menjadi faktor penting untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini.
_ajenk_






0 cuap-cuap:
Poskan Komentar
Tinggalkan komentarmu ya..^_____^