Mungkin dulu kita semua yang pernah sekolah pasti kadang merasa malas apabila mengikuti upacara bendera. Upacara rutin setiap hari Senin dan Upacara hari-hari besar lain seperti hari Pendidikan, Hari Pahlawan, dan hari kemerdekaan. Berpanas-panas, dehidrasi, belum lagi kalau pidato inspektur upacara ato kepala sekolah terlalu panjang. Bisa dipastikan siswa-siswa ekskul PMR bakalan sibuk mengangkat korban pingsan upacara. Saat menyanyikan lagu kebangsaan, kadang kita terkesan asal hormat dan acuh-tak acuh, sibuk menggaruk kaki yang gatal dan menggerutu kepanasan.
Apalagi upacara hari Pendidikan dan hari Kemerdekaan. Inspektur upacara bakalan ‘bernyanyi’ alias berpidato berkali-kali lipat lebih panjang, karena pidato yang dibacakan biasanya merupakan pidato titipan dari orang-orang terkait, seperti menteri Pendidikan. Pernah satu kali aku ikut upacara di Balai Kota Malang karena terpilih menjadi paduan suara. Siksaannya jauh lebih berat daripada hanya upacara di lapangan sekolah. Karena ‘hanya’ jadi paduan suara, tempat kita berdiri juga sesuai dengan jabatan kita, di jalan raya Tugu kota malang. Tanpa ‘tedeng’ alias langsung diguyur sinar matahari. kadang malah aku melihat fatamorgana jalanan yang bergelombang saking panasnya. Ya dapat diperkirakan, jumlah siswa yang pingsan meningkat tajam, dulu kuhitung ada 20-an orang,
Jadi ingat dulu saat SMA, di saat bendera merah putih dinaikkan, kami hormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Di saat itu pula beberapa pengendara motor dan pejalan kaki yang melintas di depan lapangan sekolah berhenti, mereka ikut hormat dan menyanyikan lagu dari luar pagar. Beberapa diantaranya adalah orang-orang tua yang sudah ringkih. Melihat itu aku berpikir …”Wah, mereka benar-benar nasionalis.”
Setelah 65 tahun Indonesia merdeka, sepenglihatanku rasa nasionalis kita telah terkikis. Ga seperti orang-orang di jaman awal-awal kemerdekaan yang benar-benar khidmat melaksanakan upacara. Mungkin karena mereka mengetahui betapa sulitnya merebut kemerdekaan, mereka jadi lebih menghormati kebebasan yang telah diraih. Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah merdeka atas diri kita sendiri? Merdeka dari pikiran sempit yang terkesan tidak mensyukuri kemerdekaan padahal kita menikmatinya tanpa harus ikut bersusah-payah?
Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berusaha giat lagi untuk menjaga kemerdekaan dan kebebasan yang telah berada dalam genggaman ini. Bukanlah suatu pekerjaan yang sulit apabila dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan di masa lalu. Upacara bendera hanya salah satu cara yang sangat amat simple bagi kita dalam memperingati hari kemerdekaan dan seharusnya tidak perlu untuk dikeluhkan. Karena tidak bisa lagi ikut upacara bendera, sekarang aku harus puas untuk sekedar melihat upacara 17 Agustus dari tv…yyy, pokoknya makna dari upacara bendera sekarang sudah sedikit kupahami.
Terakhir kuucapkan…
MERDEKA..!!
Mari berpikir kritis tanpa takut dicap berpaham teroris
_ajenk_





4 cuap-cuap:
deh...gelapnya tulisan artikel ini...ndak kebaca
@sky: msak,g gelap tu,kebca de,
Lha?
Oh my GOD!
jadi keinget kan..!
terakhir ikutan upacara 17 agustus tahun 2004 sebelum tamat SMA.
sekarang sudah tidak pernah lagi..
bukan antipati ya, tapi selalu bentrok dengan jadwal mata yang ingin memejam lagi kala hari libur..hehehe
salam kenal, n keep blogging..:)
yaaa, di saat ga tua bru tw arti upacara...
masa muda....ho2...
slm knl jg..^v^
keep blogging..
Poskan Komentar
Tinggalkan komentarmu ya..^_____^