Copyright © Days Journal
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label Movie News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie News. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Juli 2010

PARFUME : The Story of a Murderer




Parfume: The Story of a Murderer diangkat dari novel karangan Patrick Suskind dan bersetting Perancis abad 18. Ceritanya lain daripada yang lain,dan orisinal. Bagi yang tahan dengan film-film yang memulekkan (?) perut bisa melihat film berikut ini.

Jean-Baptiste Grenouille (Ben Whishaw) adalah seorang yatim piatu yang terlahir di jalanan kumuh kota Paris. Dia tidak mahir berbicara sehingga semua orang menjauhinya. Tapi dia dianugerahi indera penciuman yang luar biasa. Sayangnya, dia dijual oleh Panti Asuhannya ke sebuah pabrik penyamakan kulit yang bau, sehingga dia sangat tersiksa dengan aroma yang harus dihirupnya setiap hari itu.

Ketika sedang mengantarkan pesanan kulit ke kota, Grenouille mengenal cairan wangi bernama parfum, racikan seorang ahli parfum terkenal di Paris bernama Giuseppe Baldini (Dustin Hoffman). Dia sangat menyukai wangi parfum itu dan berusaha keras untuk menemukan materi apa saja yang telah membuatnya begitu wangi. Tentu itu tidak begitu sulit baginya karena ia pandai mengenali suatu bau dan racikan yang yang megeluarkan bau tsb. Keahliannya tersebut membuat Grenouille diangkat menjadi asisten si ahli parfum. Toko parfum yang sebelumnya sepi akhirnya banjir peminat setelah Grenuoille meracik parfum-parfum yang luar biasa. Ia bersedia bekerja sebagai peracik di toko parfum itu dengan imbalan si ahli parfum mau mengajarkan berbagai teknik dalam menyuling parfum.

Minggu, 02 Mei 2010

Alice in Wonderland, still ‘the usual’ Johnny Deep..

AW_Title w-Disney_wAgak ‘kasep’ (baca: ketinggalan) untuk membahas film ini, gara-garanya baru beberapa hari ini diputar di bioskop Malang. Tapi tetap tidak menurunkan minat untuk menonton secara’halal’ (baca: tidak mendownload) bagi para penggemar Johnny Deep. Apalagi yang nonton gratis. Rejeki memang tidak kemana *bapak-bapak mode:On.

“Ini bukan film anak-anak”, itu yang terlintas setelah film selesai diputar. Banyak yang bilang versi Tim Burton terlalu kelam dan gelap. Tapi memang katanya film ini membidik remaja dan dewasa sebagai pasar penonton. Sebenarnya aku tak pernah suka sama cerita Alice, karena terlalu complicated untuk cerita anak-anak(jaman SD bacanya).  Ditambah lagi nama-nama tokohnya yang sulit dilafalkan. Di pikiranku jaman SD cerita ini terlalu menakutkan. Dan penggambaran Tim Burton entah kenapa hampir mirip dengan visualisasiku tentang Alice in Wonderland saat jaman SD. Mungkin efek gara-gara kebanyakan nonton film thriller…*anak sd macam apa…

Bagi anda yang Caulrophobia mungkin akan sedikit takut saat menonton,  karena tokoh-tokoh di Alice in Wonderland kebanyakan mukanya kayak badut. Kualitas gambarnya keren (terlepas dari mutu rol filmnya yang sudah diputar berkali-kali). Banyak warna di film ini, karena settingnya sendiri di dunia fantasi yang berwarna-warni. Setting Inggris jaman Marie Antoinette di awal cerita cukup jelas tergambar, tapi setting tsb langsung buyar begitu masuk ke inti cerita. ...

Filmnya sendiri, kataku, sedikit kurang berkesan. Memang filmnya bagus, tapi entah kenapa tak membekas, keluar bioskop, filmnya sudah terlupakan. Pesan ceritanya cuma disampaikan dengan porsi waktu yang sangat sedikit di akhir cerita. Itupun agak ga jelas. Penokohan untuk karakter-karakter pembantu, seperti hewan-hewan juga kurang detail. Seakan-akan si sutradara menganggap semua penonton sudah mengetahui cerita Alice, padahal ada orang-orang macam aku yang belum tahu cerita lengkapnya, khususnya cerita versi dongeng/ masa kecilnya si alice. TT__TT. Atau jangan-jangan hanya aku yang tak tahu…*suara jangkrik…

Minggu, 28 Maret 2010

Hachiko Monogatari, animal lovers must see !!

hachiko_a_dogs_storyTambah satu lagi film yang nangkring di urutan atas-atas di daftar film yang paling ingin kutonton. Setelah Hurt Locker, yang sekarang masih sekedar janji buta dari Intan, lebih tepatnya Masnya Intan (yang punya), aku harus berjuang untuk mencari ‘Hachiko Monogatari’ film Jepang keluaran tahun 1987. Bagi semua pecinta Hewan di luar sana, film ini dijamin dapat membuat anda banjir air mata, bahkan hanya dengan membaca reviewnya! *pengalaman pribadi. Untungnya film ini sudah diremake Amerika dengan judul sama, Hachi, A Story of a dog, dengan aktor Richard Gere. Jadi tak perlu mencari versi asli yang setara dengan film jaman Suzanna *walaupun pengin juga. Filmnya sendiri sudah diputar di Amerika, dan sangat sukses khususnya di Jepang. Sayangnya (seperti biasa) tidak masuk Indonesia.

Hachiko Monogatari dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Jepang. Film ini mengisahkan seekor anjing, Hachiko, seekor anjing ras Jepang asli, Inu. Ia dipelihara oleh seorang Dosen Universitas yang sudah tua, Profesor Hidesamuro Ueno. Awalnya Hachiko, atau Hachi, adalah anjing hadiah untuk putri Prof. Ueno, namun nyatanya Hachi lebih dekat dengan Prof Ueno. Profesor Ueno setiap hari berangkat mengajar di universitas dengan menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari pula dengan setia menemani Profesor sampai stasiun.

hachiko1 
bigimg_HachikoMonogatari
hachiko asli                                   Prof. Ueno dan Hachiko pada Hachiko Monogatari
Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan. Walaupun cuaca buruk, Profesor Ueno tetap berangkat mengajar, Sampai suatu hari
Rabu, 17 Maret 2010

Superstar, story of true friendship

Film berikut merupakan film Thailand yang bergenre komedi+drama. Sebenarnya film ini sudah kumiliki dari jaman pekak, tapi baru sempat dilihat liburan ini (emang libur?). Terima kasih untuk Etika yang namanya tak boleh disebut yang telah memberikan film yang menyentuh ini (?) dan Roisa yang terlalu tergila-gila pada OST –nya.

Superstar, begitu judul film ini. Sekilas kita pasti mengetahui isi cerita hanya dari membaca judulnya. Memang secara garis besar, film ini menceritakan tentang 2 orang sahabat yang ingin menjadi entertainer. Tom dan Teung merupakan sepasang sahabat dari kecil. Tom (diperankan oleh Rattapoom Tokongsub) memiliki muka yang cukup (sebenarnya sangat , ho2) tampan dan pandai menari, sedangkan Teung memiliki bakat di bidang tarik suara dan persajakan. Namun masing-masing memiliki kekurangan, Tom, walaupun berwajah tampan, namun suaranya parau seperti banci. Sedangkan Teung walaupun berbakat di bidang seni, ia memiliki tampang yang kurang menjual, mirip budi anduk dengan rambut direbonding.


Kedua orang tersebut memendam mimpinya untuk menjadi seorang penyanyi dan entertainer. Suatu hari Tom merekam dirinya sendiri saat menyanyikan lagu ciptaan Teung, yang berjudul Touch My Heart. Tentunya dengan Lipsynh suara Teung, ia pun menambahkan gerakan-gerakan tari (entah kenapa dinamakan Kungfu Hip Hop) ke dalamnya. Tom, tanpa sepengatahuan Teung, mengirimkan rekaman videonya pada sebuah Perusahaan Pengorbit Artis yang hampir bangkrut. Tidak disangka mereka lolos audisi, namun ternyata akhirnya Double Dream (perusahaan pengorbit artis) menganggap mereka telah menipu karena melakukan Lipsynh dan mengusir mereka.