Masih teringat dengan jelas saat seorang widyaiswara berkata pada kelas saya, 438A, saat Diklat Prajabatan di Islamic Center, Surabaya, setahun yang lalu.
"Saya harap kalian disini, bapak ibu guru muda, bisa mempertahankan idealisme dalam membentuk generasi muda bangsa ini, sehingga Indonesia memiliki generasi penerus yang jujur dan kompeten, " kata beliau dengan berbinar dan menggebu.
Wajar Bapak Widyaiswara itu berkata demikian, beliau berkaca pada banyaknya fenomena PNS yang sudah kehilangan idealisme, istilahnya lainnya, asal kerja, tidak mencurahkan yang terbaik dari dirinya, toh ya PNS tiap bulan juga digaji sama.
Ya, saat itu semangat kami terlecut, untuk mewujudkan dan mempertahankan idealisme kami sebagai guru. Sayangnya, di saat dan momen yang sama, kami harus dan mungkin bisa dikatakan terlibat pada praktik yang sebaliknya. Dan lagi-lagi saya harus mengambing hitamkan sistem di Indonesia.
"Saya harap kalian disini, bapak ibu guru muda, bisa mempertahankan idealisme dalam membentuk generasi muda bangsa ini, sehingga Indonesia memiliki generasi penerus yang jujur dan kompeten, " kata beliau dengan berbinar dan menggebu.
Wajar Bapak Widyaiswara itu berkata demikian, beliau berkaca pada banyaknya fenomena PNS yang sudah kehilangan idealisme, istilahnya lainnya, asal kerja, tidak mencurahkan yang terbaik dari dirinya, toh ya PNS tiap bulan juga digaji sama.
Ya, saat itu semangat kami terlecut, untuk mewujudkan dan mempertahankan idealisme kami sebagai guru. Sayangnya, di saat dan momen yang sama, kami harus dan mungkin bisa dikatakan terlibat pada praktik yang sebaliknya. Dan lagi-lagi saya harus mengambing hitamkan sistem di Indonesia.
