Copyright © Days Journal
Design by Dzignine
Sabtu, 31 Juli 2010

Jangan Jadi Hikikomori…!!!


Kemajuan teknologi tidak menjamin adanya perubahan yang positif di aspek lain yang melingkupinya. Misalnya kualitas hidup manusia. Sekarang siapa sih yang ga tau yang namanya Facebook, Twitter, Game online, PS, dkk. Dari bayi (ada lo) sampe mbah-mbah punya akun di situs2 jejaring sosial itu. Anak-anak muda apalagi, seakan tiada hari tanpa buka FB. Ya, aku sendiri juga mengakui itu, tapi sekarang lagi dalam usaha untuk ‘berpuasa’, maksudnya puasa dalam melakukan aktivitas pasif di rumah, duduk menghadap laptop, buka internet, dan berselancar di dunia maya tanpa kenal waktu. Mungkin beberapa diantara kamu ada yang seperti itu? Lebih baik segera hilangkan kebiasaan itu, apalagi bagi kamu yang kurang bisa mengendalikan hasrat (jyaah..) untuk ber-online ria. Untuk yang uda parah banget hati-hati nanti bisa jadi ‘hikikomori’.
12024330694
HIkikomori sendiri adalah istilah Jepang yang berarti “menarik diri'” dan mulai menarik perhatian media sejak 1999-2000an karena kasusnya yang cukup fenomenal. Diduga ada 2 juta remaja Jepang (kebanyakan umur 13-20 tahun) yang mengalami penyakit ini. Sindrome yang paling jelas dari hikikomori adalah tidak pernah keluar kamar (atau rumah). Bahkan tercatat ada orang yang tidak keluar dari kamarnya selama 10 tahun (yang pasti di dalam kamar ada kamar mandinya, bisa2 berjamur kalo ga mandi selama 10 tahun). onion-emoticon-007

image80%  hikikomori adalah laki-laki dan fenomena ini sering dijumpai di negara maju. Di banyak negara, hikikomori dianggap sebagai penyakit psikologi, sindrom PDD dan autisme. Hanya di Jepang, Hikikomori dianggap sebagai fenomena sosial (saking banyaknya). Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa faktor keluarga berada dibalik kasus-kasus hikikomori. Hilangnya figur ayah (terlalu sibuk bekerja), ibu yang terlalu memanjakan anak, dan tekanan akademik di sekolah, school bullying, dan maraknya video game di Jepang. Semakin tua seorang hikikomori, semakin kecil kemungkinan dia bisa berkompeten di dunia luar. Bahkan ada kemungkinan tidak bisa kembali normal untuk bekerja atau membangun relasi sosial, seperti menikah.
OMG 010_


China malah telah membuka suatu akademi yang khusus menangani remaja-remaja atau orang dewasa yang kecanduan internet, game, dan semacamnya. Mereka kebanyakan adalah hikikomori yang dikirim orang tuanya dengan harapan bisa kembali terjun ke kehidupan masyarakat. Metode pembelajarannya? Jangan membayangkan metode-metode lunak seperti ‘curhat bersama’ kayak di film Anger Management,  penderita diperlakukan bak tentara dan menjalani kehidupan seperti di camp militer. Bahkan, yang baru-baru ini menimbulkan pro kontra, adalah metode setrum. Kok? iya, hikikomori-hikikomori itu didudukan di kursi listrik dan disetrum. Entah bagian mananya yang dianggap dapat mengurangi ketergantungan mereka akan teknologi. Belum ada yang mati se (kecewa…lho! ), hanya setelah itu camp rehabilitasi para hikikomori ditutup sementara, kayaknya sekarang uda dibuka lagi, ada yang mau ikut? silahkan daftar…dijamin…pulang-pulang tambah kisut..07
 
Lha di Indonesia? Jangan salah, sekarang bisa jadi kita sedang meniru jepang, bukan dalam kemajuan IPTEK-nya, tapi jumlah hikikomorinya.  Timbang bercakap-cakap langsung lebih gampang dan menyenangkan chatting via massanger dan tweet. Tren internet, jejaring sosial, dll apabila tidak kita sikapi dengan bijak juga dapat menjerumuskan kita sendiri. Karena itu, jangan mau diperbudak oleh teknologi, kitalah yang seharusnya memperbudak teknologi…(gj…huaha).  Mari Berjuang.NyemokCool

Jadi gimana menurutmu teman?

_ajenk_

52 komentar:

  1. Untungnya di Indonesia kemungkinan hikikomori merajalela kayak di Jepang kecil,

    alasanya di Jepang tuh, mw pesen delivery service toko sebelah rumah aja dah bisa via internet, jadi meski shut-in berjuta-juta tahun di rumah juga masih bisa makan,,,

    Tanya dong, kebanyakan hikikomori itu jadi 'parasit' bagi keluarganya (ga cari dhuwit via internet) ato kerja di dalam kamar?

    hmm

    BalasHapus
  2. @rei :
    kykny lebih ke parasit d mbek..
    kayk di atashinci no danshi..
    tapi klo hikikomorinya kyk yang di hayate (akhirnya baca jg, g ada yg lain soalny)
    y enak2 aj, emang orang kaya...

    BalasHapus
  3. waw.. nice inpo.. like this.. (^_^)..

    BalasHapus
  4. waks... moga aku nggak tergolong hikikomori, ampe numpuk makanan dan cemilan sachet kayak di warung :D

    geleng-geleng dah :) salam dari Jogja-Jakarta. Oya barusan aku follow ya, matur nuwun :)

    BalasHapus
  5. semoga ane gk kegolong orang yang hikikomori deh ..
    wkwkwkkww
    salam kenla yah..
    izin follow

    BalasHapus
  6. berarti saya hikikomori dong, maind terus di kamar T_T

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. wah enak bener dikamar mulu kerjaannya, berarti saya termasuk golongan hikikomori

    BalasHapus
  9. ane mah pas libur kuliah doang di rumah mulu -.-"
    pas kuliah ngacir kesana kemari

    BalasHapus
  10. Sebenarnya aku berharap aku bisa sembuh dari penyakit hikikomoriku. Sejak kelas 5 sd aku di bully dan sejak itu aku jadi trauma masuk ke dunia sosial, singkatnya menarik diri dan kecanduan game juga social media untuk mengusir rasa sepi ketika seorang diri di rumah.
    orang tua mengurusiku, tapi mereka kebanyakan juga sibuk sama kerja. aku jadi kasihan, memutuskan menyimpan semua masalahku sendirian.
    Aku baru kembali lagi ke dunia sosial setelah lulus SMA tapi akibatnya, jadi tidak kompeten saat ke jenjang perkuliahan.
    Itu menakutkan, karena aku tidak bisa bergaul dan akhirnya tersingkir, dari kehidupan sosialisasi.Seperti sampah.
    Aku harap indonesia memiliki penanganan untuk penyakit hikikomori dan berharap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal,
      untuk bisa kembali ke dunia sosial memang dibutuhkan keberanian. Jujur, saya juga orang yang pendiam dan kurang percaya diri, tapi setelah masuk di organisasi semasa kuliah, perlahan saya lebih percaya diri tampil di depan publik. Masalah orang mau menyukai kita atau tidak itu urusan mereka, yang penting kita nyaman dengan diri sendiri. Memang prosesnya butuh pembiasaan.
      Semoga kamu juga bisa seperti itu, berjuanglah..:D

      Hapus
  11. kapok jd hikikomori, punggung sakit...jdwl tidur kea burung hantu... kamar not only like a broken ship tp udh taraf gak karu2an (pdhl cwe).. dan udh kapok kena marah pacar gr2 "selingkuh" sm fb n koneksi internet TT^TT

    BalasHapus
  12. klo aku nggak suka brada di lingkungan sekitar rumah....... jdi lbih sering ngurung diri di kamar...... klo nggak gitu aku sering pergi sklah pagi2 plang mlm itupun seharian di sklah..... kdang2 klo nggak ada kegiatan organisasi.. aku mnghabiskan wktu di prpus sklah smpai prpusnya tutup.... aku trmsuk hikikomori nggak ya???....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya gak deh

      Hapus
    2. halo, makasih sudah komen, ^-^

      sama sepertiku, semasa kuliah aku banyak kegiatan, meliput buat majalah kampus dsb, kadang kalau libur masih ke kampus juga. Jadi kalau ada waktu senggang lebih suka di rumah tidur..
      sepertinya bukan termasuk hikikomori.. :3

      Hapus
  13. aku dulu pernah jadi hikikomori, padahal dulu aku gaptek sekali, dan gak punya apa apa, aku dulu tersiksa jyka harus bergaul dengan orang,tapy setelah Allah membuka jalanku dan mengenalkan aku dengan teknologi aku malah mudah bergaul dengan orang jadi gak semua teknologi berdampak buruk,itu tinggal orangnya saja yang harus mengontrol diri

    BalasHapus
  14. wel gw bisa dibilang hikki juga nih, malas keluar kamar lebih enak kalau didalam saja, gw juga susah kali mau berinteraksi, kalau ada orang ngomong gw diam, ngk tau mau ngomong apa soalnya, dan satu penyakit ane, kalau terlalu lama diluar di tempat ramai, perasaan ane selalu gelisah, kepala pusing, pengen cepat2 pulang aja ke kos, kalau dah sampe kos tenang langsung dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu mungkin bukan gejala hikkikomori. Bisa dibilang anda belum menemukan seseorang yang pas dan nyaman untuk diajak bicara. Saya pun mengalami yang seperti itu.
      Sejak SD,SMP, hingga SMA kelas 1 saya termasuk orang yang ceria dan mudah untuk bersosialisasi. Tapi entah mengapa kian kemari hingga sekarang saya menduduki bangku kuliah, tiba-tiba saya tidak merasa nyaman untuk berbicara di hadapan teman-teman saya, dan masih mencari solusi bagaimana agar karakter saya kembali menjadi masa-masa dulu lagi

      Hapus
    2. Mungkin karena introvert saja. Lebih nyaman di tempat sepi. Kalaupun ada teman nggak perlu banyakan.

      Hapus
    3. iya, sepertinya hanya introvert..aku juga bukan tipe orang yang banyak teman, dan hanya benar2 nyaman dengan beberapa teman (soalnya saya bisa dibilang introvert)..jadi selama SD hingga kuliah masing2 saya punya teman dekat/sahabat. saya pertemanan semcam itu lebih solid, daripada punya banyak teman tapi tidak ada yg benar2 dikenal..
      Sampai sekarang pun masih sering main bareng dan sering curhat.. :3 *malah cerita

      Hapus
  15. Kebanyakan penderita hikikomori itu Otaku.. ._.
    Dengan gejala awal kurang bersosialisasi dengan teman" dan orang sekitar, tapi masih sering keluar #nahlo XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. istilah hikikomori emang munculnya dari Jepang, ada kemungkinan gara2 fenomena otaku disana.. ^^
      Otaku yg punya omunitas bukan hikikomori sih menurutku.. :3

      Hapus
  16. @world of fantasy: kira-kira apa dong?haha.. :3

    BalasHapus
  17. Takut sih jadi Hikikomori, takut pengangguran. tapi kamar dan laptop itu udah kayak nyawa. SEMOGA GUE BUKAN HIKIKOMORI ! D':

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya hikikomori lebih memiliki masalah dengan sudut pandang mereka melihat dunia, entah karena suatu alasan hingga pada akhirnya menutup diri dan enggan berhubungan dengan dunia luar..
      jarang keluar kamar tapi melihat dunia secara normal dan nyaman bersosialisasi dengan komunitas sepertinya bukan hikikomori..

      Hapus
  18. iya,soalnya emang anak2 jepang gol middle-upper class di jepang terlalu dimanja,buktinya anak2 lower class di jepang ampir ga ada yang hk,kalo kelamaan di kamar langsung diusir soalnya,haha

    kayanya kalo keluarganya bener,hk ga bakal marak di indo,soalnya kulltur di sini beda sama jepang,disana kaku banget,baik di dalam atau luar keluarga,makanya anak2nya takut gagal dan memilih menarik diri. apalagi indonesia kan terkenal dengan gotong royong dan tepo sliro nya.

    kedua,indonesia itu negara agnostik (with tendencies to islamic teachings),dari kecil udah diajarin kehidupan beragama,and as we know,setiap agama pasti mewajibkan pengikutnya u/ menemui komunitasnya secara berkala,umat kristen wajib ke gereja saben minggu,hindu dan budha juga,apalagi islam,minimal 5 kali sehari harus ketemu orang dimasjid,dan apabila memotong tali silaturahmi itu terlarang,beda sama di jepang yang kemaren kampus2 nya malah ramai membuka kafe anti-sosial,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener banget.. budaya indonesia bisa jadi defense yang efektif untuk mencegah budaya hikikomori..
      terimakasih atas komentarnya.. :)

      Hapus
  19. tolong hapus posternya bro. posternya seolah mengatakan kalau hikikomori adalah mereka yg benci pada kehidupannya sehingga mengurung diri. tapi pada kenyataannya hikikomori bisa diderita seseorang karena trauma dan ketakutan mereka kepada society. ingat ya takut pada society, bukan benci pada kehidupan mereka atau benci pada society. mereka mengurung diri bukan karena mereka menginginkannya, tapi karena terpaksa, dunia luar begitu menakutkan bagi mereka.

    dan setiap hikikomori pasti ingin kembali bersosialisasi lagi, tapi mereka terlalu takut untuk melangkahkan kaki keluar. mereka perlu di bimbing dan melakukan terapi penyembuhan. posternya benar2 fail, sang pembuat poster cuma melihat keraknya saja tapi belum melihat intinya tapi langsung ngejudge bahwa semua hikikomori terjadi karena kehidupannya yg 'sucks'. sama seperti orang awam yg melihat penderita skizofrenia sebagai orang gila tanpa tahu apa2 soal ganguan mental yg mereka derita

    BalasHapus
    Balasan
    1. gambarnya sudah diganti, terimakasih kritik dan sarannya.. :)
      maaf asal comot poster tanpa lihat esensi terlebih dahulu..

      Hapus
  20. Kalau saya, ke luar rumah saat bekerja saja, kalau libur diem di rumah seharian ga keluar keluar. ga bisa ngobrol sama orang lain.

    apakah saya juga hikikomori ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. selama anda masih berhubungan sosial dengan orang lain saya kira tidak.. :) terimakasih sdah berkomentar.. :D

      Hapus
  21. halo mbak...
    saya orang yang introvet dan tidak suka dengan keramaian. kalo berada ditempat yang banyak orang selalu merasa gelisah dan takut(bahkan sama sepupu saya aja yang serumah jarang ngomong), saya juga bisa dibilang tidak PD-an. selain itu saya juga seorang GAY T.T , mungkin karna sebab itu saya jadi menarik diri dari lingkungan. terkadang kalo lagi ada masalah atau lagi kepikiran sesuatu yang ujung2nya buat saya gelisah, ada kecenderungan untuk bunuh diri. kalo di kampus cuma punya beberapa teman doang dan itu juga tidak akrab, sedangkan kalo libur ga kemana2 kecuali diajak keluarga jalan2.

    apakah saya termasuk hikikomori?
    apakah ada solusinya untuk masalah saya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya, menurut saya hikikomori adalah penyakit hati. merasa orang lain tidak menyukai kita, minder, dsb itu salah satu contoh penyakit hati. Solusi utk mengobati penyakit hati, menurut saya, adalah dgn banyak beribadah dan mengingat Allah. Pasti hati anda akan tenang.

      Jangan takut dengan dunia luar. Saat memandang orang lain, usahakan untuk melihat kebaikannya terlebih dahulu. Bila ia menyakiti anda, doakan saja agar ia segera sadar. Bila kita hidup dengan pikiran positif pasti akan lebih indah. Semoga saran saya bisa membantu ya..

      Hapus
  22. saya juga bisa dibilang mengidap hikikomori
    sejak kecil saya selalu diejek oleh teman-teman saya. Tidak ada yang pernah mengajak saya bermain. Lalu saya akhirnya mempelajari kehidupan Otaku. Sejak saat itu jika urusan sekolah selesai saya langsung ke kamar. Rasanya komputer, manga, game dan Hp sudah bagaikan teman sejati saya. Dan akhirnya saya merasa benci jika disuruh bersosialisasi dengan orang lain

    BalasHapus
  23. sprtiny saya mengidap hikikomori,,itu krna tak ad yg mau bicara dgn sya dari hati k hati,,itu membuatku eneg brgaul...prktaan saya tdk prnah ditanggapi,,lebh baik saya d kmr dg laptop,& gadget lainny,,itu lebih mnyenangkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sis gw juga sebenernya suka bergaul sama org cuma org suka cuek ke kita ga nanggepin.. anjing emang bukan gw yg autis DUNIA YG AUTISS !!!

      Hapus
  24. sprtiny saya mengidap hikikomori,,itu krna tak ad yg mau bicara dgn sya dari hati k hati,,itu membuatku eneg brgaul...prktaan saya tdk prnah ditanggapi,,lebh baik saya d kmr dg laptop,& gadget lainny,,itu lebih mnyenangkan

    BalasHapus
  25. sprtiny saya mengidap hikikomori,,itu krna tak ad yg mau bicara dgn sya dari hati k hati,,itu membuatku eneg brgaul...prktaan saya tdk prnah ditanggapi,,lebh baik saya d kmr dg laptop,& gadget lainny,,itu lebih mnyenangkan

    BalasHapus
  26. sprtiny saya mengidap hikikomori,,itu krna tak ad yg mau bicara dgn sya dari hati k hati,,itu membuatku eneg brgaul...prktaan saya tdk prnah ditanggapi,,lebh baik saya d kmr dg laptop,& gadget lainny,,itu lebih mnyenangkan

    BalasHapus
  27. sprtiny saya mengidap hikikomori,,itu krna tak ad yg mau bicara dgn sya dari hati k hati,,itu membuatku eneg brgaul...prktaan saya tdk prnah ditanggapi,,lebh baik saya d kmr dg laptop,& gadget lainny,,itu lebih mnyenangkan

    BalasHapus
  28. salam, nice posting. saya sedang mencari info tentang penderita hikikomori. menurut mbak sendiri, bagaimana hikikomori di Indonesia? apakah sebenarnya keberadaannya sudah ada namun tidak teridentifikasi? Adakah alasan yang mendalam dan mendetil tentang mengapa seseorang sampai akhirnya menarik diri dari sosial? kalo boleh tau, mbak punya rujukan ato referensi tentang hikikomori ini. Jika ada, tolong kabari saya. thanks.

    BalasHapus
  29. wah kalo saya sih lebih sering ngabisin waktu dikamar, kalo udah di sekolah pengennya cepet cepet pulang terus ngumpet dikamar dan neting,gaming sampe puas.tapi kehidupan sosial saya ga begitu parah, siang sosial di dunia nyata dan sisanya di dunia maya.kalo diajak main misalnya acara kelas atau acara sekolah suka males apalagi kalau liburan pengennya tenang aja ga ada yg ganggu di kamar. nah itu termasuk hikikomori ga ya?
    saya termasuk org yang kecanduan game online dan terobsesi dengan game tersebut, sehingga kalau udah maen pasti ga inget sama waktu, ga inget makan, ga inget beres beres kamar, udah kaya kapal pecah ni kamar haha. mau menyeimbangkan kegiatan sehari hari pasti ga bisa, udah rencana beres beres malah kebablasan maen game.

    BalasHapus
  30. sya jga bsa d blang hikki
    sya jdi hikki ya krna bbrpa alasan
    sdh hmpir 3 tahun sya tdk brkomunikasi sm teman2 sedesaku,lingkunganku,
    ... tpi klo sma orang2 skitar,lingkungan d desaku sy msih bsa brkomnikasi kcuali tman2ku tu,
    sy tu tk pnya dndam/rsa bnci trhdap smua tman2ku,, hnya sja krna suatu alasan itu yg mmbuatku jdi Hikki dn mngrung dri d kamar akhirnya tnpa sdar sya sdah sndrian,dan malu trkdang utk kmbli ke mereka,,,
    ... klo ktmu am mreka sya hnya trsenyum sja tnpa brkata apapun.
    smpai saat ini sya hnya brmain dg PC sya game lah,animelah,browsinglah ...
    trkdang sat putus asa,tekanan,hilang arah,, sy bnar2 tdk tau hrus brbuat apa
    .. krna sya tdk mmpnyai dkungan,drongan dr siapapun,, tpi alhmdulillah sy sllu brpegang kepada Allah, dan mndkatkan dri kpda allah,, itulah yg mmbuat sy brthan smpai sat ini .
    sya ingin kmbli bsa brkmnikasi sm tman2 sy itu tpi tdk tau hrus brbuat apa ??

    BalasHapus
  31. klo di indo metode setrumnya dibawa ke ust.gun*t*r bu*i aja mba.. :D

    BalasHapus
  32. hikimori?? kenapa sih pada banyak yang ngoment hikikomori, itu bukan salah kita tapi salah dunia, bukan kita yang salah tapi dunia yang salah so... daripada kita gak di terima dunia lebih baik kita narik diri dari dunia kan?? lagi pula hikikomori bukan penyakit tapi gaya hidup emang salah kalo kita ngurung diri di kamar toh kita gak ngeganggu kalian kan bahkan kalian akan lebih terganggu kalo kita berinteraksi sama kalian kan?? aku gak akan ngoment yang memperlihatankan kalo jadi hikikomori itu sedih,kesepian ato yang lain nya karena kita sendirian di rumah.. karena bagi kita kamar tuh dunia kita, kita bebas mau ngapain.. dan juga kita bisa melakukan hal yang kita anggap menyenang kan gak perlu lagi merasa khawatir akan tekanan harus ini harus itu dan lagi pula gak semua hikikomori itu otaku!!!! saya bukan seorang otaku dan juga paradigma yang mengatakan bahwa hikikomori pasti otaku itu salah besar..so...jangan judgment dari satu artikel tapi gali lah dan cobalah untuk tidak menghindari hikikomori so karena kita juga manusia

    BalasHapus
  33. gw sering main game dikamar,udh 3 tahun ini gw ga cari tmen di dunia real
    tmen" lama gw di daerah gw tinggalin wkwkkw,mreka ngundang gw tpi gw gk ada respon dari gw,entahlah masa kecil gw buruk sama mereka..mngkin itu alasannya
    gw jarang banget keluar rumah,kalo ada perlu aja gw keluar
    berinteraksi gw jarang karna gw gk bnyk bicara,klo gk ada orng yg ngajak bicara duluan ya gw tanggepin apalagi klo orangnya asik
    and gw gabakal kyk gini selamanya,gw masi punya hati untuk di isi
    kasian ortu gw ngebiayain gw tiap harinya tpi gw ga berbuat apa"
    gw pasti minggat dari zona nyaman gw untuk menjalani kehidupan normal

    ~sen

    BalasHapus
  34. Kalau kayak gini mah, gak cerah masa depan

    BalasHapus
  35. sedikit curhat,dulu waktu kecil saya sering bersosialisasi tiap hari keluar buat main sama teman kampung, namun penyakit hikikomori mulai menjangkit saya ketika smp saya mulai jarang keluar rumah

    dan semakin parah ketika memasuki SMA saya jarang keluar rumah kecuali saat sekolah,waktu sehari2 saya habiskan bersama HP/pc untuk bermain game,sosial media dan nonton film/anime,kamar menjadi tempat yang paling nyaman,saya menjadi sanggat pendiam ketika bersama orang lain dan saya memiliki masalah ketika berkomunikasi munkin karna saya memang pendiam,kecuali saat saya bersama sahabat saya masih bisa berbicara panjang lebar

    sebener nya saya inggin sekali merubah kebiasaan hidupp saya tapi saya terlalu takut mencoba dan bingung harus memulai dari mana,terkadang saya merasa kehilangan arah dan tujuan hidup

    BalasHapus

Tinggalkan komentarmu ya..^_____^