Copyright © Days Journal
Design by Dzignine
Jumat, 31 Januari 2014

Keajaiban Doa

Apa yang terpikirkan setelah kamu wisuda? Bisa segera menghasilkan uang sendiri, mandiri, lanjut pendidikan yang lebih tinggi atau mengakhiri masa lajang dan membina keluarga? Banyaak sekali pilihan.. dan terkadang kita pesimis, takut, dengan masa depan. Apakah masa depan kita sesuai dengan cita-cita kita, sesuai dengan harapan orang tua. Wajar, sangaat wajar. Apalagi setelah mendengarkan pidato pelepasan Rektor yang notabene berisi wejangan untuk menghadapi dunia di luar universitas, dunia dimana kita bukan lagi anak sekolah-an/mahasiswa. Dunia dimana penilaian individu tidak hanya didasarkan pada kognitif. Dunia yang penuh tantangan dan permasalahan yang menunggu untuk diselesaikan.

Walau takut-takut, lulusan baru (fresh graduate) biasanya akan sangat rajin menghadiri berbagai job fair *curhat. Berbagai perusahaan, perbankan, BUMN, media, dan lain-lain. Mungkin awalnya hanya untuk melihat-lihat, dan mempelajari. Selanjutnya? melamar..


Melamar pekerjaan di perusahaan, wauw, terdengar trendy dan dewasa sekali *apasih. Setidaknya bagi saya yang masih ulala ini. *mulai kumat. Lanjut..

Sekali dua kali mendapat panggilan untuk mengikuti tes masuk. Ya, karena masih rookie, jarang sekali ada fresh graduate (baca: saya) yang langsung diterima di kesempatan-kesempatan awal. Well, karena kita belum memiliki gambaran dengan tahapan-tahapan tes masuk, seperti psikotes, wawancara awal, dan lain sebagainya. Sedikit demi sedikit, kegagalan demi kegagalan tidak terhitung di masa lalu saat ini terasa menjadi sebuah berkah. Kenapa berkah? ya dari situ kita (khususnya saya) belajar, bagaimana me-manajemen diri menghadapi kegagalan dan penolakan, belajar membawa diri dan jujur menjadi diri sendiri di setiap tahapan tes masuk. Selalu ada rasa kecewa, tapi jangan biarkan berlarut-larut dan menjadi tembok penghalang untuk meraih kesuksesan.

Di satu kesempatan, saya sempat diterima di suatu Bank Swasta dengan posisi Account Officer. Namun karena kurang sreg (karena ikut tes cuma pengen latihan psikotes sama wawancara, dan memperhatikan pandangan perbankan yang abu-abu di mata Islam) saya tidak datang di hari penandatanganan kontrak. Iya, mencari pekerjaan sangat tidak mudah, karena kita harus bisa menimbang dan mempertanggungjawabkan pekerjaan kita tidak hanya di dunia.

Berbagai kegagalan itu akhirnya berbuah manis di akhir. Saya mulai hapal dengan ritme tes-tes masuk perusahaan. Mulai fasih dengan pola soal psikotes dan mengetahui cara membawa diri di depan pewawancara. Saya mulai menikmati kegiatan jobseeker ini. Di waktu yang bersamaan saya melamar di dua tempat, Perbankan (Bank Pembangunan Daerah) sebagai administrasi dan Media (punyanya Pak Dahlan) sebagai wartawan.

Sempat tidak sreg lagi. Jujur untuk bekerja di perbankan saya tidak terlalu tertarik (alasan jelas, selain itu hanya karena ikut-ikutan –_-), namun  bekerja di Media adalah salah satu cita-cita saya (Setidaknya impian saat saya masih lajang dan memiliki banyak waktu dengan diri sendiri).  Tapi ada satu alasan mengapa saya kurang sreg dengan media. (selanjutnya akan saya tulis di posting berikutnya). Kalau hal itu memang benar, tidak mungkin saya bahagia di tempat semacam itu. Ottoke… (._.)

Tahap demi tahap berhasil saya lalui hingga wawancara akhir, orang tua sangat mendukung dan tidak berusaha mengintervensi apapun pilihan saya. Di satu sisi saya merasa bersyukur akhirnya usaha saya membuahkan hasil, namun di satu sisi saya tidak ingin melanjutkan dengan mempertimbangkan banyak alasan. Saya ingat doa yang sengaja Ibu tempel di pintu kulkas..

2014-01-31 15.53.29

Berulang-ulang doa itu saya baca,tiap sholat, tiap memikirkan masa depan, dan tiap lewat di depan kulkas *soalnya ditempel. Sambil berharap pada akhirnya saya mendapatkan tempat yang diridhoi Allah. Kemudian Allah menjabahnya… Entah bagaimana saya lolos tes CPNS sebagai guru. Alhamdullilah, seperti keajaiban saya sangaat bersyukur. Namun…di hari yang sama dengan pengumuman CPNS saya mendapat panggilan untuk mengikuti tes kesehatan, tahap akhir dari perekrutan wartawan. “Apa yang kamu pilih nak?” Saya merasa Allah berusaha menguji saya..

Orang tua, saudara dan teman semua menyarankan untuk mengambil CPNS. Pasti..pasti saya akan mengambil CPNS. Tapi ternyata berat juga untuk melepas kesempatan di media itu. Setelah berbagai tes yang ‘amat sangat tidak normal’ tapi menyenangkan, bertemu dan berkenalan dengan wartawan-wartawan profesional yang ‘ngeri-ngeri’, bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai penjuru Indonesia yang memiliki impian sama. Ya, pada akhirnya saya melepasnya. Tapi saya tidak pernah menyesalinya, karena saya sangat beruntung memiliki kesempatan untuk mengikuti berbagai tahapan tes wartawan yang ulala dubidubidam cetar duar duar lain daripada yang lain disana.. ^^hahahaa. Sampai sekarang pun saya masih keep in touch dengan wartawan-wartawan baru teman seperjuangan kemarin. Semoga mereka diberi kemudahan. :) Beberapa minggu berikutnya saya mendapat panggilan tes kesehatan di Bank, tahap akhir dari perekrutan. Kalau yang satu itu saya tidak butuh waktu banyak untuk memutuskan.

Jadi..begitu ceritanya. Bagaimana usaha, keajaiban doa dan perpanjangan tangan Allah mengantar saya ke titik ini. Titik dimana saya menjadi calon guru muda. Pekerjaan yang InsyaAllah aman dunia akhirat, mudah dalam menumpuk pahala buat bekal nanti, dan minim kemungkinan KKN. Pekerjaan yang InsyaAllah saya nyaman berkecimpung di dalamnya. Walau tidak ditempatkan di kota kelahiran, saya masih bersyukur karena kota saya mengabdi hanya 2 jam dari rumah. Ya, 23 tahun saya berdiam di kota ini, beberapa bulan lagi saya akan berangkat untuk memulai lembaran baru dalam hidup saya. Pastinya akan lebih banyak tantangan yang menghadang.

Pesan saya bagi teman-teman yang akan atau sedang mencari pekerjaan, pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan hatimu. Jangan hanya tergiur dengan gaji besar dan jabatan semata. Libatkan Allah dalam setiap keputusan. Cari pekerjaan yaang bersih, dan apabila sudah berkecimpung di dalamnya tetaplah menjaga idealisme dan hidup secara jujur.  Karena hidup di dunia ini hanya sementara. Hanya 1,5 jam waktu akhirat (estimasi umur 60 tahun meninggal). Jadikan waktu yang tinggal sebentar di dunia ini bermanfaat sembari memaksimalkan bekal buat kehidupan selanjutnya. :D. Semoga kita semua dimudahkan di semua usaha kita, Aamiin..



.ajeng.

6 komentar:

  1. doanya boleh saya gunakan jugakan?

    terima kasih sudah bagi pengalaman, keren. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangaat boleh,
      terimakasih, semoga bisa menginspirasi yaa.. :D

      Hapus
  2. Sangat mengena sekali Jeng...ijin Bookmark doanya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdullilah ya kalau berguna tulisan saya..
      silahkan bay.. :3

      Hapus
  3. Barakallah mksih ilmu dan pngalamanya ya

    BalasHapus
  4. Subhanallah,,,saya sangat terkesan dgn pnglamanya,,,
    Gambarnya saya unduh ya untuk dipraktekan jg,,,
    Terimakasih banyak,,,semoga Allah SWT membalas kebaikanya saudara,dan semoga kita semua selalu ditempatkan pda tempat yg penuh berlah,,,Aamiin.

    BalasHapus

Tinggalkan komentarmu ya..^_____^